Friday, 21 June 2013

Kesan Pertama Begitu Menggoda, Selanjutnya...

Untuk cara order dan pricelist, silahkan klik disini  

Produk-produk desain kami (klik di nama produk): Logo | Brosur | Company Profile | Cover buku | Stationary | Kemasan Produk | Tshirt | Banner | Poster | Kalender dinding | Map | Layanan Premium  

Baca juga : Tentang Kami | Keunggulan Kami | Testimoni & Klien Kami | Kontak Kami | Tips-tips, Artikel, & Konsultasi Desain | Cara Order dan Pricelist | On Progress Project 

_____________________________________________________________________________


Penulis : Admin

Manakah yang lebih penting, konten atau konteks? Jawabannya bisa bervariasi. Bisa tergantung segmen yang ditembak, tingkat kompetisi, besarnya pasar, dll. Tetapi secara sederhana, dunia kita semakin bergeser dan mulai banyak yang melihat konteks sama penting dengan konten. Bahkan pada segmen tertentu ada yang beranggapan bahwa konteks jauh lebih penting dari konten.


Seorang sahabat yang punya bisnis sebagai suplier bahan-bahan kimia ke industri-industri pernah bilang bahwa kalau dia datang ke pabrik klien pakai mobil kantor, (merk X), ia "tidak dianggap" dan diremehkan. Tetapi kalau ia datang pakai Nissan Livina ia akan disambut dengan baik.


Bapak saya pernah menjual gambar instalasi listrik sebuah industri. Harganya waktu itu hanya beberapa juta kalau tidak salah. Yang mengantar anak buahnya pakai motor. Si anak buah itu tidak dipercaya sama klien, suruh balik lagi. Akhirnya Bapak saya minta tolong sahabatnya untuk mengantarkan gambar itu ke kliennya. Temannya itu kebetulan punya Mercy. Dan berapa si Klien akhirnya bayar? 25juta! Dan si klien "ikhlas serta puas" dengan harga tersebut.


Diterima atau tidak, Ini kenyataan yang sulit dipungkiri. Bahwa persepsi konsumen akan kualitas harus bisa kita arahkan sejak pertama mereka diperkenalkan produk/jasa kita. Kita harus memberikan kesan, yang dengannya konsumen menjadi yakin dan akhirnya mau memutuskan untuk membeli produk kita atau menggunakan jasa yang kita tawarkan.


Sebaiknya tinggalkan kebiasan kurang baik yang selalu menjadikan diri kita seakan sebagai role model dan standar bagi "gaya hidup dan persepsi" konsumen. Konsumen itu heterogen, dan sangat mungkin cara pandang mereka berbeda dengan kita. Dalam marketing, mungkin sebaiknya tidak bicara "menurut saya..." tetapi harus dipahami bagaimana "menurut mereka..."


Salah satu yang bisa memberikan kesan pertama bagi calon konsumen adalah sisi tampilan visual, mulai dari desain logo anda, kartu nama, kop surat, brosur, company profile, banner, poster, kemasan, desain website kita, desain kantor kita, sampai dengan penampilan diri kita. Klien/konsumen yang teliti bisa dengan mudah menilai/menebak bagaimana kualitas produk/layanan kita hanya dengan melihat hal-hal fisik tersebut.

Celakanya, kadang mereka langsung "memberikan vonis" atas kualitas produk/jasa kita hanya berdasarkan pandangan pertama tersebut tanpa mau tahu lagi kualitas "asli" dari produk/layanan kita. Kalau pun kita "cuap-cuap", mereka sudah "meng-under-estimate-kan" produk/jasa yang kita tawarkan, sehingga apa pun yang kita presentasikan tidak akan memberikan hasil maksimal.


Sebagai pebisnis, marketer, sudah selayaknya kita teliti dan lebih aware dengan masalah tampilan ini. Sudah bukan zamannya lagi kita jualan dengan tampilan marketing tools seadanya + tampilan diri yang menyedihkan (baju kumel, sepatu belum disemir, rambut acak-acakan, dll) lalu mengharapkan keajaiban terjadi dimana pembeli berjubel membeli produk kita serta mengalahkan para kompetitor yang produknya "branded". Mungkin perlu dikurangi nonton sinetron-sinetron yang agak lebay jikalau pandangan tersebut masih ada.

"Goda"lah konsumen dengan kesan pertama yang baik... selanjutnya... biar kualitas produk atau layanan jasa kita yang akan berbicara...

No comments:

Post a Comment